Artikel

Apakah Psikoanalisis Masih Relevan di Era Digital?

February 24, 2026 mahler
Apakah Psikoanalisis Masih Relevan di Era Digital?

Pernahkah Anda berniat membuka media sosial hanya lima menit, tetapi tanpa terasa waktu berlalu jauh lebih lama? Atau merasa terganggu oleh komentar yang sebenarnya tidak terlalu jelas maksudnya? Pertanyaannya, apakah ini sekadar kebiasaan digital, atau ada dinamika psikologis yang bekerja lebih dalam?

Di tengah arus informasi yang cepat dan budaya validasi instan, psikoanalisis menawarkan sesuatu yang jarang kita lakukan: berhenti sejenak dan memahami apa yang sebenarnya terjadi di dalam diri.

Kehidupan Psikis yang Tidak Sepenuhnya Disadari

Dalam esainya The Unconscious, Sigmund Freud menjelaskan bahwa kehidupan mental manusia tidak seluruhnya berada dalam kesadaran. Ia membedakan antara conscious, preconscious, dan unconscious sebagai wilayah-wilayah yang saling berinteraksi dalam dinamika psikis.

Banyak literatur pengantar kemudian menggunakan ilustrasi gunung es untuk membantu menjelaskan model ini, karena hanya sebagian kecil kehidupan mental yang langsung kita sadari, sementara bagian lain bekerja secara laten. Namun secara historis, metafora tersebut bukanlah pernyataan literal Freud, melainkan alat bantu pedagogis yang berkembang kemudian (Green, 2019).

Dalam konteks digital, dinamika ini terasa semakin relevan. Dorongan untuk terus memeriksa notifikasi, kebutuhan akan pengakuan melalui likes, atau kecemasan ketika unggahan tidak memperoleh respons dapat dipahami sebagai ekspresi dari kebutuhan emosional yang tidak selalu sepenuhnya kita sadari.

Menurut laporan Digital 2025: Indonesia dari We Are Social, masyarakat Indonesia menghabiskan sekitar 188 menit per hari (3 jam 8 menit) untuk mengakses media sosial. Angka ini berada di atas rata-rata global yang sekitar 141 menit per hari. Data tersebut menunjukkan bahwa media sosial bukan sekadar sarana komunikasi, melainkan ruang tempat dinamika emosional berlangsung secara intens (We Are Social, 2025; dirangkum oleh GoodStats, 2025).

Dengan durasi interaksi selama itu, wajar apabila media sosial menjadi arena proyeksi, identifikasi, dan pencarian pengakuan.

Mekanisme Pertahanan Diri dalam Interaksi Daring

Konsep mekanisme pertahanan diri dijelaskan secara sistematis oleh Anna Freud. Mekanisme ini merupakan cara ego mereduksi kecemasan akibat konflik internal.

Dalam interaksi digital, mekanisme tersebut dapat muncul dalam bentuk:

  • Proyeksi: menuduh orang lain memiliki sifat yang sebenarnya sulit kita terima dalam diri sendiri.

  • Penyangkalan: menolak mengakui dampak negatif penggunaan media sosial secara berlebihan.

  • Rasionalisasi: memberi alasan yang tampak logis untuk membenarkan dorongan emosional.

  • Reaksi Formasi: menampilkan citra sangat percaya diri untuk menutupi rasa tidak aman.

Ketika respons emosional di ruang digital terasa berlebihan dibanding stimulusnya, psikoanalisis mengajak kita mempertimbangkan kemungkinan adanya konflik yang lebih dalam.

Repetisi dan Pola Relasional di Era Algoritma

Dalam Beyond the Pleasure Principle, Freud memperkenalkan konsep repetition compulsion, yaitu kecenderungan individu mengulang pola tertentu meskipun pola tersebut tidak menguntungkan.

Di media sosial, repetisi ini dapat terlihat dalam:

  • Terlibat berulang kali dalam perdebatan yang melelahkan

  • Mengikuti konten yang memicu perbandingan sosial dan kecemasan

  • Mengulangi dinamika relasi yang tidak sehat dalam komunikasi daring

Alih-alih memandangnya sebagai kelemahan moral, psikoanalisis melihatnya sebagai pola yang memiliki makna. Pertanyaan yang diajukan bukan “Mengapa saya seperti ini?”, melainkan “Apa yang sedang saya ulang, dan apa yang sebenarnya saya cari?”

Relevansi Psikoanalisis di Tengah Budaya Instan

Di era yang serba cepat, pendekatan reflektif sering dianggap terlalu lambat. Namun penelitian menunjukkan bahwa terapi psikodinamik memiliki efektivitas jangka panjang yang signifikan (Shedler, 2010). Perubahan yang dihasilkan tidak hanya bersifat simptomatik, tetapi menyentuh struktur kepribadian dan pola relasi.

Teknologi berkembang pesat, tetapi dinamika psikis manusia tetap kompleks. Justru karena dunia bergerak semakin cepat, ruang untuk memahami konflik batin menjadi semakin penting.

Media sosial telah menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat Indonesia, dengan rata-rata penggunaan lebih dari tiga jam per hari. Dalam durasi yang panjang itu, berbagai dinamika emosional berlangsung dan sering kali tanpa kita sadari sepenuhnya.

Psikoanalisis tentunya tidak menawarkan solusi instan. Melainkan menawarkan pemahaman.

Mungkin sebelum membuka aplikasi media sosial berikutnya, kita dapat berhenti sejenak dan bertanya:

“Apa yang sebenarnya sedang saya cari?”

Pertanyaan ini sederhana, tetapi dapat menjadi awal dari refleksi yang lebih mendalam. 

Di situlah psikoanalisis tetap relevan.

Referensi

Freud, S. (1957). The unconscious. In J. Strachey (Ed. & Trans.), The standard edition of the complete psychological works of Sigmund Freud (Vol. 14). (Original work published 1915).

Freud, S. (1955). Beyond the pleasure principle. (Original work published 1920).

Freud, A. (1966). The ego and the mechanisms of defence. (Original work published 1936).

Green, C. D. (2019). Freud and the myth of the iceberg. History of Psychology, 22(3), 303–321.

Shedler, J. (2010). The efficacy of psychodynamic psychotherapy. American Psychologist, 65(2), 98–109.

We Are Social. (2025). Digital 2025: Indonesia.

GoodStats. (2025). Indonesia habiskan 188 menit per hari akses media sosial.